Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

Pemutihan karang: ketika laut yang terlalu hangat membuat terumbu kehilangan warnanya

Karang adalah hewan yang hidup bersama alga mikroskopis. Ketika air laut terlalu hangat terlalu lama, kemitraan itu putus dan terumbu berubah putih seperti tulang.

Pemutihan karang: ketika laut yang terlalu hangat membuat terumbu kehilangan warnanya
Foto: N / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Terumbu karang yang sehat adalah hamparan warna: cokelat keemasan, hijau, ungu, biru. Ketika hamparan itu tiba-tiba berubah putih seperti tulang, para penyelam tahu sesuatu sedang salah. Fenomena ini disebut pemutihan karang, dan ia adalah salah satu tanda paling kasatmata bahwa laut sedang mengalami tekanan.

Untuk memahami pemutihan, kita perlu tahu bahwa karang sebenarnya adalah hewan. Setiap bongkahan karang terdiri dari ribuan polip kecil yang hidup berkoloni. Di dalam jaringan polip itu hidup alga mikroskopis yang bersimbiosis dengan karang. Alga inilah yang memberi warna pada karang sekaligus memasok sebagian besar makanannya melalui fotosintesis.

Baca juga: Terbakar matahari di hari mendung: sinar ultraviolet yang tidak terasa panas

Kemitraan yang putus

Hubungan ini sangat peka terhadap suhu. Ketika air laut menjadi lebih hangat dari biasanya dalam waktu cukup lama, alga di dalam karang mulai menghasilkan senyawa yang merusak jaringan inangnya. Karang lalu mengeluarkan alga tersebut sebagai respons bertahan hidup. Tanpa alga, jaringan karang menjadi transparan dan kerangka kapur putih di bawahnya terlihat. Itulah warna putih yang kita sebut pemutihan.

Karang yang memutih belum mati. Ia kehilangan sumber makanan utamanya dan menjadi lemah, tetapi jika suhu segera kembali normal, alga dapat kembali masuk dan karang pulih. Jika panas berlangsung terlalu lama, karang akan kelaparan dan mati, lalu kerangkanya ditumbuhi alga lain dan terumbu berubah menjadi hamparan abu-abu.

Suhu bukan satu-satunya pemicu. Sinar matahari yang sangat terik, air yang terlalu tawar setelah banjir, polusi, dan sedimen juga bisa memicu pemutihan. Namun gelombang panas laut adalah penyebab pemutihan massal berskala luas yang paling sering tercatat.

Mengapa Indonesia sangat berkepentingan

Perairan Indonesia berada di jantung Segitiga Terumbu Karang, kawasan dengan keragaman karang tertinggi di dunia. Terumbu di sini menopang perikanan pesisir, melindungi pantai dari hempasan ombak, dan menjadi tulang punggung pariwisata bahari di banyak daerah.

Ketika karang mati, ikan-ikan yang bergantung padanya kehilangan tempat tinggal dan tempat bertelur. Dampaknya berjalan pelan tetapi pasti sampai ke nelayan kecil yang menangkap ikan di sekitar terumbu.

Apa yang bisa dilakukan

Pemanasan laut adalah persoalan global yang tidak bisa diselesaikan satu desa atau satu negara sendirian. Tetapi tekanan lokal bisa dikurangi: menghentikan penangkapan ikan dengan bom dan racun, mengelola limbah agar tidak mencemari laut, dan menjaga agar sedimen dari daratan tidak menimbun terumbu. Karang yang tidak tertekan oleh masalah lokal cenderung lebih mampu bertahan dan pulih setelah gelombang panas.

Para peneliti juga mencatat bahwa beberapa jenis karang dan beberapa lokasi lebih tahan panas daripada yang lain. Memahami mengapa sebagian terumbu bertahan sementara yang lain runtuh adalah salah satu bidang penelitian terpenting hari ini.

IF
Irfan FadillahIrfan menulis untuk Bumi Sains sejak 2024 dan telah menerbitkan lima belas artikel tentang monsun, mikrohidro, dan cara kerja ulasan sejawat. Ia selalu menyertakan nomor DOI setiap studi yang dikutipnya dalam catatan kaki naskah sebelum menyerahkannya ke penyunting.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.