Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

Terbakar matahari di hari mendung: sinar ultraviolet yang tidak terasa panas

Panas yang kita rasakan dan sinar yang merusak kulit adalah dua hal berbeda yang kebetulan datang dari sumber yang sama.

Terbakar matahari di hari mendung: sinar ultraviolet yang tidak terasa panas
Foto: S / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Banyak orang pulang dari pantai pada hari yang berawan dengan kulit memerah dan rasa heran. Mataharinya tidak terik, udaranya sejuk, tetapi bahunya terbakar juga. Keheranan ini lahir dari sebuah kekeliruan yang masuk akal: kita mengukur bahaya matahari dengan rasa panas di kulit, padahal yang membakar kulit tidak terasa panas sama sekali.

Sinar matahari yang sampai ke kita terdiri atas banyak jenis gelombang. Cahaya tampak adalah yang kita lihat. Inframerah adalah yang kita rasakan sebagai hangat. Dan ultraviolet, dengan gelombang yang lebih pendek dari cahaya tampak, tidak terlihat dan tidak terasa, tetapi membawa energi yang cukup besar untuk merusak molekul di dalam sel kulit.

Baca juga: AC mendinginkan kamar dengan memanaskan gang: cara kerja pompa kalor

Awan menyaring panas lebih baik daripada menyaring ultraviolet

Awan tebal memang menahan sebagian besar inframerah dan cahaya tampak, sehingga hari terasa teduh dan redup. Tetapi awan tipis dan awan yang terpencar meloloskan sebagian besar ultraviolet, dan tepian awan yang putih bahkan bisa memantulkan sinar ke bawah sehingga di sebagian tempat dosisnya sedikit lebih besar daripada di langit cerah. Karena isyarat panas sudah hilang, orang tinggal lebih lama di luar tanpa pelindung, dan hasilnya kulit yang terbakar di hari yang terasa nyaman.

Mengapa di khatulistiwa sinarnya lebih keras

Indonesia berada di jalur di mana matahari hampir selalu tinggi di langit pada tengah hari. Sinar yang datang tegak menempuh lapisan atmosfer yang lebih tipis daripada sinar yang datang miring, sehingga lebih sedikit ultraviolet yang sempat diserap di perjalanan. Ketinggian juga berpengaruh: di dataran tinggi, udara di atas kepala lebih tipis lagi. Dan pasir pantai, air laut, serta permukaan terang lain memantulkan sebagian sinar kembali ke tubuh dari bawah, menyinari bagian yang kita kira terlindung.

Membaca tanda yang benar

Karena rasa panas bukan penanda yang bisa dipercaya, pegangan yang lebih baik adalah waktu dan bayangan. Ketika bayangan tubuh lebih pendek daripada tinggi badan, matahari sedang tinggi dan ultraviolet sedang kuat, berawan atau tidak. Pakaian yang menutup, topi, dan tabir surya bekerja pada hari mendung sama pentingnya dengan pada hari cerah.

Awal Oktober, saat kemarau mulai bercampur dengan awan pancaroba, hari-hari teduh seperti ini semakin sering datang. Kulit yang terbakar di hari berawan bukan keanehan; ia pengingat bahwa indra kita tidak dirancang untuk mendeteksi semua yang dibawa matahari.

IF
Irfan FadillahIrfan menulis untuk Bumi Sains sejak 2024 dan telah menerbitkan lima belas artikel tentang monsun, mikrohidro, dan cara kerja ulasan sejawat. Ia selalu menyertakan nomor DOI setiap studi yang dikutipnya dalam catatan kaki naskah sebelum menyerahkannya ke penyunting.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.