Mengapa api di lahan gambut sulit dipadamkan
Api gambut membakar ke bawah tanah tanpa nyala, bertahan berminggu-minggu, dan sering muncul kembali di tempat yang tampak sudah padam. Pencegahannya dimulai dari air, bukan dari api.

Setiap kali asap kebakaran menyelimuti Sumatra dan Kalimantan, pertanyaan yang sama muncul: mengapa apinya tidak kunjung padam meski sudah disiram berhari-hari? Jawabannya ada di bawah tanah, dalam lapisan yang disebut gambut.
Gambut adalah tanah yang terbentuk dari sisa tumbuhan yang tidak terurai sempurna. Di rawa yang selalu tergenang, oksigen tidak cukup bagi mikroba untuk membusukkan daun, batang, dan akar yang mati. Sisa-sisa itu menumpuk lapis demi lapis selama ribuan tahun, membentuk lapisan tanah organik yang bisa mencapai beberapa meter tebalnya.
Baca juga: Semut berbaris mengikuti jejak bau: cara satu koloni berpikir tanpa pemimpin
Hutan yang berdiri di atas bahan bakar
Dalam kondisi alaminya, gambut hampir sepenuhnya jenuh air dan karena itu sulit terbakar. Masalah dimulai ketika gambut dikeringkan. Kanal-kanal yang digali untuk membuka lahan perkebunan atau pertanian menguras air dari rawa, dan gambut yang kering berubah menjadi tumpukan bahan organik yang sangat mudah terbakar, mirip arang atau serbuk kayu.
Ketika api menjalar ke gambut kering, ia tidak hanya membakar permukaan. Api merambat ke bawah dan menyala tanpa nyala api yang terlihat, seperti bara dalam tungku. Kebakaran semacam ini disebut kebakaran bawah permukaan, dan ia bisa berlangsung berminggu-minggu.
Mengapa air dari atas tidak cukup
Menyiram permukaan sering tidak menyentuh bara yang membakar jauh di bawah tanah. Air mengalir di atas atau menguap sebelum mencapai titik panas. Api juga bisa merambat secara mendatar di bawah permukaan dan muncul kembali di tempat yang tampak sudah padam beberapa hari sebelumnya.
Satu-satunya cara memadamkan kebakaran gambut secara tuntas adalah membasahi kembali seluruh lapisan gambut hingga jenuh, sesuatu yang membutuhkan air dalam jumlah sangat besar atau hujan lebat yang berlangsung lama. Inilah sebabnya musim kebakaran gambut biasanya baru benar-benar berakhir ketika musim hujan tiba.
Asap dari pembakaran gambut yang membara berbeda dari asap kebakaran hutan biasa. Pembakaran tanpa nyala menghasilkan lebih banyak partikel halus dan gas yang berbahaya bagi pernapasan, dan asap ini dapat terbawa angin hingga ke negara tetangga.
Pencegahan dimulai dari air
Karena gambut basah tidak terbakar, pencegahan paling efektif adalah menjaga permukaan air tetap tinggi: menyekat kanal-kanal pengering, membangun bendung kecil, dan membiarkan rawa kembali tergenang. Pendekatan ini dikenal sebagai pembasahan kembali.
Membasahi kembali gambut bukan hanya soal api. Gambut yang kering juga terus-menerus melepaskan karbon ke udara karena sisa tumbuhan yang tadinya terawetkan mulai membusuk ketika bertemu oksigen. Menjaga gambut tetap basah berarti mencegah kebakaran sekaligus mencegah pelepasan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun.
Tahun-tahun kering yang dipicu El Nino adalah masa paling rawan. Lahan yang tetap basah pada tahun-tahun seperti itu adalah yang paling mungkin selamat dari api, dan pelajaran ini berulang setiap kali musim kering yang parah datang.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.