Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

El Nino dan La Nina: apa yang sebenarnya terjadi di Samudra Pasifik

Dua nama yang kerap disalahkan atas kemarau panjang dan hujan berlebih itu bermula ribuan kilometer dari Indonesia, dari angin dan air hangat yang berpindah tempat.

El Nino dan La Nina: apa yang sebenarnya terjadi di Samudra Pasifik
Foto: F / Wikimedia Commons (Public domain)

Setiap beberapa tahun, nama El Nino muncul di berita bersamaan dengan kekhawatiran akan kemarau panjang. Beberapa tahun kemudian giliran La Nina yang disebut sebagai biang hujan berlebih. Keduanya sering dibicarakan, tetapi jarang dijelaskan: apa sebenarnya yang berubah, dan di mana?

Jawabannya ada di Samudra Pasifik tropis, ribuan kilometer dari Indonesia. Dalam kondisi normal, angin pasat bertiup dari timur ke barat di sepanjang khatulistiwa, mendorong air permukaan yang hangat menumpuk di Pasifik barat, di sekitar Indonesia dan Papua Nugini. Air hangat ini menguap deras dan membentuk awan hujan, sehingga wilayah kita menjadi salah satu kawasan terbasah di dunia.

Baca juga: Pemutihan karang: ketika laut yang terlalu hangat membuat terumbu kehilangan warnanya

Ketika angin melemah

El Nino terjadi ketika angin pasat melemah. Tanpa dorongan angin, tumpukan air hangat itu bergeser ke timur, menjauh dari Indonesia menuju tengah dan timur Pasifik. Pusat pembentukan awan ikut berpindah. Akibatnya, kawasan Indonesia, khususnya bagian tengah dan timur, cenderung menerima lebih sedikit hujan, dan musim kemarau bisa datang lebih awal atau berlangsung lebih lama.

La Nina adalah kebalikannya. Angin pasat menguat melebihi biasanya, air hangat menumpuk makin tebal di Pasifik barat, dan pembentukan awan di atas Indonesia makin intens. Hasilnya adalah musim hujan yang lebih basah dan kemarau yang lebih lembap daripada rata-rata.

Keduanya adalah bagian dari satu siklus alami yang dikenal sebagai ENSO, singkatan dari El Nino-Southern Oscillation. Siklus ini tidak teratur seperti jam; fase hangat dan dingin datang silih berganti dengan jeda beberapa tahun, dan kekuatannya berbeda-beda dari satu kejadian ke kejadian lain.

Dampak yang tidak seragam

Penting untuk diingat bahwa El Nino tidak berarti seluruh Indonesia pasti kering. Pengaruhnya paling kuat di wilayah yang curah hujannya memang bergantung pada monsun, seperti Jawa, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi. Wilayah yang berbatasan dengan Samudra Hindia sering terpengaruh lebih lemah karena samudra itu punya dinamikanya sendiri.

Waktu kejadian juga menentukan. El Nino yang memuncak saat musim kemarau akan terasa jauh lebih berat daripada yang terjadi di tengah musim hujan. Inilah sebabnya lembaga cuaca selalu membaca ENSO bersama faktor lain, bukan sebagai penentu tunggal.

Pada tahun-tahun El Nino yang kuat, risiko kebakaran hutan dan lahan gambut meningkat tajam karena vegetasi dan tanah mengering lebih dalam dari biasanya. Ketersediaan air untuk pertanian dan pembangkit listrik tenaga air juga menjadi perhatian.

Membaca peringatan dengan tenang

Lembaga meteorologi di berbagai negara memantau suhu permukaan Pasifik secara terus-menerus dan mengeluarkan status seperti siaga El Nino beberapa bulan sebelum dampaknya terasa. Status ini adalah peluang, bukan kepastian. Yang dapat dilakukan adalah bersiap: menyimpan air, menyesuaikan jadwal tanam, dan menghindari pembakaran lahan.

Memahami bahwa pemicunya berada di samudra yang jauh membantu menempatkan El Nino pada proporsinya: bukan kutukan, bukan pula hal yang bisa dikendalikan, melainkan irama alam yang bisa dipelajari dan diantisipasi.

VH
Vina HartantoVina bergabung pada 2023 dan merupakan penulis aktif dengan sembilan belas artikel, dari mekanisme vaksin hingga pergerakan lempeng di bawah kepulauan Indonesia. Ia memulai setiap artikel tentang gempa dengan membaca ulang katalog kejadian dari badan geofisika untuk wilayah yang dibahas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.