Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsAlam

Bintang jatuh tidak jatuh: hujan meteor dan debu yang terbakar di udara

Yang menggores langit malam seukuran butir pasir, dan cahayanya lahir dari udara yang dimampatkan.

Bintang jatuh tidak jatuh: hujan meteor dan debu yang terbakar di udara
Foto: M / Wikimedia Commons (CC BY 3.0)

Pada malam-malam tertentu setiap tahun, orang yang tekun memandang langit bisa melihat goresan cahaya melintas, sesekali atau beberapa kali dalam satu jam. Orang tua kita menyebutnya bintang jatuh dan menganjurkan membuat permohonan. Sains menyebutnya meteor, dan ceritanya jauh lebih kecil sekaligus lebih mengagumkan daripada sebuah bintang yang terlepas dari langit.

Yang kita lihat bukan bintang. Bintang adalah bola gas raksasa yang jaraknya begitu jauh sehingga cahayanya butuh bertahun-tahun untuk sampai. Goresan di langit itu adalah butiran batu atau debu, kebanyakan tidak lebih besar dari pasir atau kerikil, yang memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan luar biasa. Ia tidak jatuh dari langit; bumilah yang menabraknya dalam perjalanannya mengitari matahari.

Baca juga: Putri malu menutup daun saat disentuh: tumbuhan yang bergerak tanpa otot

Mengapa debu sekecil itu bisa menyala

Benda yang bergerak sangat cepat memampatkan udara di depannya. Udara yang dimampatkan mendadak menjadi sangat panas, dan panas itu memanggang permukaan butiran sampai menguap. Gas dari butiran dan udara di sekitarnya menyala, dan jalur yang menyala itulah yang kita lihat sebagai goresan. Sebagian besar butiran habis terbakar jauh di atas permukaan, di lapisan udara yang tipis, dan tidak pernah sampai ke tanah. Yang cukup besar untuk tersisa dan mendarat disebut meteorit, dan itu jarang terjadi.

Warna goresan bercerita tentang bahannya dan kecepatannya. Beberapa tampak kehijauan, yang lain kekuningan atau kemerahan, bergantung pada logam dan mineral yang menguap serta seberapa keras udara dipanaskan.

Mengapa ada musimnya

Sebagian besar debu ini ditinggalkan oleh komet. Ketika komet mendekati matahari, esnya menguap dan melepaskan butiran yang kemudian tersebar di sepanjang lintasannya, membentuk sungai debu di ruang angkasa. Setiap tahun, pada tanggal yang kira-kira sama, bumi melintasi sungai yang sama, dan selama beberapa malam jumlah meteor meningkat. Itulah hujan meteor. Karena semua butiran datang dari arah yang sama, goresannya tampak memancar dari satu titik di langit, dan nama hujan meteor diambil dari rasi tempat titik itu berada.

Bulan Desember adalah salah satu bulan dengan hujan meteor yang dikenal baik, tetapi bagi pengamat di Indonesia tantangannya adalah awan musim hujan. Jika langit kebetulan terbuka, cari tempat gelap, jauh dari lampu, dan biarkan mata menyesuaikan diri selama beberapa belas menit tanpa melihat layar ponsel. Tidak perlu teropong; meteor melintas terlalu cepat dan terlalu luas untuk itu. Cukup berbaring, menatap ke atas, dan menunggu bumi menabrak debu yang ditinggalkan sebuah komet entah berapa lama yang lalu.

OH
Oka HakimOka menulis untuk Bumi Sains dari 2022 hingga 2025 dan menjadi penulis terbanyak pada periode itu dengan dua puluh artikel tentang iklim dan energi. Ia dikenal di redaksi karena menolak kata sifat dalam judul dan menggantinya dengan angka yang dapat diperiksa.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.