Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsAlam

Putri malu menutup daun saat disentuh: tumbuhan yang bergerak tanpa otot

Gerakan secepat itu berasal dari air yang dipompa keluar dari sel, bukan dari saraf dan otot.

Hampir setiap anak Indonesia pernah mencobanya: menyentuh daun putri malu di pinggir jalan dan menonton helai-helainya melipat dalam hitungan detik, lalu tangkainya ikut terkulai. Beberapa menit kemudian daun itu membuka lagi, seolah tidak terjadi apa-apa. Tumbuhan tidak punya otot, tidak punya saraf, tetapi putri malu bergerak lebih cepat daripada hampir semua tumbuhan lain. Bagaimana caranya?

Rahasianya ada di pangkal setiap tangkai daun, pada bagian yang sedikit menggembung bernama pulvinus. Bagian ini berisi sel-sel yang berfungsi seperti bantal air. Selama sel-sel itu penuh air dan kencang, tangkai tegak dan helai daun terbuka. Begitu sebagian sel kehilangan airnya dengan cepat, bantal di satu sisi mengempis, dan tangkai pun rebah ke arah sisi yang kempis.

Baca juga: Langit khatulistiwa: mengapa dari Indonesia kita bisa melihat bintang dua belahan bumi

Sinyal yang merambat tanpa saraf

Sentuhan pada ujung daun tidak langsung mengempiskan bantal di pangkal. Ada sinyal yang harus berjalan dulu. Pada putri malu, sinyal itu berupa perubahan muatan listrik di membran sel yang merambat dari sel ke sel, mirip dengan impuls saraf pada hewan tetapi jauh lebih lambat dan tanpa serabut saraf khusus. Ketika sinyal tiba di pulvinus, ion-ion dipompa keluar dari sel, dan air mengikuti ion itu keluar karena perbedaan kepekatan. Sel mengempis, tangkai jatuh.

Membuka kembali adalah proses yang berlawanan dan jauh lebih lambat. Ion harus dipompa masuk lagi, air kembali mengisi sel, dan bantal perlahan kencang. Itulah sebabnya daun melipat dalam sekejap tetapi butuh beberapa menit untuk tegak lagi, dan mengapa tumbuhan yang terus-menerus disentuh akhirnya berhenti merespons untuk sementara: cadangan energinya untuk memompa ion sedang dipulihkan.

Untuk apa tumbuhan repot-repot bergerak

Gerakan ini menghabiskan energi, jadi pasti ada manfaatnya. Penjelasan yang paling diterima adalah pertahanan. Daun yang tiba-tiba melipat dan tangkai yang rebah membuat tumbuhan tampak lebih kecil dan kurang menarik bagi hewan pemakan daun, dan gerakan mendadak itu sendiri bisa mengejutkan serangga yang baru mendarat. Hujan deras di awal musim penghujan juga memicu daun melipat, sehingga helai yang tipis tidak dihantam tetes air secara langsung.

Mekanisme bantal air yang sama, dalam versi lebih lambat, dipakai banyak tumbuhan lain: daun yang menutup saat senja, kelopak bunga yang membuka pagi hari, pucuk yang mengikuti matahari. Putri malu hanya mempercepatnya sampai cukup cepat untuk ditonton mata manusia, dan dengan itu, ia menjadi guru biologi pertama bagi banyak dari kita.

SP
Shinta PramudyaShinta menulis dua belas artikel sejak 2024 tentang mangrove, pulau panas perkotaan, dan energi surya di garis khatulistiwa. Ia mengukur sendiri suhu permukaan trotoar dan taman di kotanya dengan termometer inframerah sebelum menulis tentang pulau panas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.