Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsEnergi

Kayu sebagai energi terbarukan: hanya jika hutannya tumbuh lebih cepat daripada ditebang

Membakar kayu melepas karbon yang sama seperti membakar batu bara. Bedanya ada pada seberapa cepat karbon itu diambil kembali.

Kayu sebagai energi terbarukan: hanya jika hutannya tumbuh lebih cepat daripada ditebang
Foto: W / Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0)

Di awal Juni yang kering, asap tungku kayu kembali terlihat di dapur-dapur desa dan di pabrik kecil yang memakai sisa penggergajian sebagai bahan bakar. Kayu sering dimasukkan ke daftar energi terbarukan bersama matahari dan angin, dan kadang pembangkit besar beralih dari batu bara ke pelet kayu dengan alasan itu. Tetapi kata terbarukan di sini menyimpan syarat yang mudah dilupakan.

Saat kayu dibakar, karbon yang tersimpan dalam serat kayunya bergabung dengan oksigen dan keluar sebagai karbon dioksida, persis seperti batu bara. Cerobong tidak bisa membedakan keduanya. Perbedaannya terletak pada waktu. Karbon dalam batu bara dikumpulkan tumbuhan ratusan juta tahun lalu dan sudah lama terkunci di bawah tanah; membakarnya memindahkan karbon dari simpanan purba ke udara hari ini. Karbon dalam kayu diambil pohon dari udara selama puluhan tahun terakhir, dan pohon pengganti bisa mengambilnya kembali dalam puluhan tahun ke depan. Kayu baru benar-benar netral ketika lingkaran itu tertutup: pohon yang tumbuh menyerap sebanyak yang dilepas tungku.

Baca juga: Hidrogen bukan sumber energi, melainkan wadah: cara membaca kabar bahan bakar masa depan

Dua laju yang harus seimbang

Lingkaran itu tertutup hanya jika hutan tumbuh sekurang-kurangnya secepat ia dipanen. Ranting, serbuk gergaji, dan sisa panen perkebunan adalah bahan yang paling mudah dipertanggungjawabkan, karena pohonnya tidak ditebang khusus untuk dibakar. Hutan alam yang ditebang untuk pelet adalah kebalikannya: karbon yang tersimpan berabad-abad dilepas dalam sekejap, dan hutan pengganti butuh waktu lebih panjang dari umur pembangkitnya untuk mengambil kembali. Ditambah bahan bakar untuk menebang, mengeringkan, menggiling, dan mengapalkan kayu itu, dan neracanya bisa lebih buruk daripada yang digantikan.

Yang diukur bukan apinya, melainkan hutannya

Jadi kayu bukan terbarukan atau tidak; ia terbarukan sejauh pengelolaan hutannya. Pertanyaan yang tepat untuk setiap proyek biomassa bukan apakah bahan bakarnya tumbuhan, melainkan berapa lama karbon yang dilepas hari ini diserap kembali, dan apakah ada yang memastikan pohonnya benar-benar tumbuh. Jawaban yang jujur sering membedakan tungku desa yang memakai ranting dari pembangkit raksasa yang mengimpor pelet dari hutan yang jauh.

Api kayu di dapur dan di pembangkit melepas karbon yang sama. Yang membuat salah satunya layak disebut terbarukan adalah hutan yang tidak terlihat dari cerobongnya.

OH
Oka HakimOka menulis untuk Bumi Sains dari 2022 hingga 2025 dan menjadi penulis terbanyak pada periode itu dengan dua puluh artikel tentang iklim dan energi. Ia dikenal di redaksi karena menolak kata sifat dalam judul dan menggantinya dengan angka yang dapat diperiksa.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.