Tanah yang turun pelan: ketika sumur-sumur dalam menguras penyangga di bawah kota
Air tanah bukan sungai bawah tanah, melainkan air yang mengisi pori. Begitu dikuras, pori itu mengempis dan tidak kembali.
Akhir Mei, hujan sudah hampir berhenti di sebagian besar Jawa, dan pompa-pompa air tanah di kota pesisir mulai bekerja lebih lama. Di beberapa kawasan, warga tua ingat lantai rumah yang dulu sejajar jalan kini berada di bawahnya, dan rob yang dulu hanya datang pada pasang besar kini mampir pada pasang biasa. Sebagian cerita itu tentang laut yang naik. Sebagian lagi, dan sering yang lebih besar, tentang tanah yang turun.
Untuk memahaminya, buang dulu gambaran sungai atau danau di bawah tanah. Air tanah tersimpan dalam pori-pori: celah kecil di antara butir pasir, kerikil, dan lempung, seperti air dalam spons. Lapisan yang porinya saling tersambung dan mudah dilalui air disebut akuifer, dan sumur bor menyedot air darinya. Di dataran pesisir yang terbentuk dari endapan sungai muda, lapisan pasir berselang-seling dengan lapisan lempung lunak yang porinya sangat kecil tetapi menyimpan banyak air.
Baca juga: Arus balik: mengapa laut yang tampak tenang bisa menyeret perenang menjauhi pantai
Air yang menyangga, pori yang mengempis
Di dalam akuifer, air tidak hanya mengisi ruang; tekanannya ikut menyangga berat tanah di atasnya. Ketika air dipompa lebih cepat daripada hujan mengisinya kembali, tekanan itu turun, dan beban tanah di atas berpindah ke butiran-butiran padat. Pasir hanya sedikit merapat. Lempung lain ceritanya: butirannya yang pipih tersusun longgar dan, begitu airnya terperas, merapat perlahan menjadi lapisan yang lebih tipis. Permukaan tanah di atasnya ikut turun, bukan tiba-tiba, melainkan sedikit demi sedikit setiap tahun. Dan pemampatan lempung itu sebagian besar tidak dapat dibalik: kalaupun pemompaan berhenti dan air kembali, pori yang sudah mengempis tidak mengembang seperti semula.
Mengapa pesisir paling rentan
Kota pesisir mengumpulkan semua syaratnya sekaligus: tanah endapan muda yang lunak, bangunan dan timbunan yang menambah beban, kebutuhan air yang besar, dan sumber air permukaan yang tercemar sehingga orang lari ke sumur dalam. Setiap jengkal penurunan di sana langsung berhadapan dengan laut. Tanggul laut dapat menahan air, tetapi tidak menahan tanah yang terus merosot di belakangnya; selama penyebabnya berlanjut, tanggul harus terus ditinggikan.
Jalan keluarnya tidak misterius, hanya sukar: mengganti air tanah dengan air permukaan yang diolah, membatasi sumur dalam, dan mengisi kembali akuifer di tempat yang masih bisa. Tanah tidak akan naik kembali. Yang bisa dikejar adalah menghentikan turunnya.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.