Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsEnergi

Lampu pijar yang panas dan LED yang sejuk: ke mana perginya energi

Dua lampu bisa sama terangnya, tetapi yang satu membakar tangan dan yang lain nyaris dingin. Bedanya ada pada cara cahaya dibuat.

Di akhir Agustus yang kering dan berangin, banyak rumah mengganti lampu teras yang mati, dan di toko kita dihadapkan pada pilihan yang dulu tidak ada: lampu pijar tua yang murah, atau lampu LED yang harganya lebih tinggi tetapi diklaim lebih hemat. Klaim itu benar, dan alasannya bisa dirasakan langsung dengan tangan. Lampu pijar yang baru dimatikan tidak bisa disentuh; LED yang menyala berjam-jam hanya terasa hangat.

Lampu pijar membuat cahaya dengan cara yang sangat tua: kawat tipis di dalamnya dipanaskan oleh arus listrik sampai berpijar. Benda apa pun yang cukup panas akan bercahaya, seperti besi yang memerah di tungku pandai besi. Masalahnya, benda panas memancarkan sebagian besar energinya sebagai panas yang tidak terlihat mata, dan hanya sebagian kecil sebagai cahaya tampak. Lampu pijar pada dasarnya adalah pemanas yang kebetulan menyala.

Baca juga: Mengapa setangki bensin masih mengalahkan baterai seberat ratusan kilogram

Cahaya tanpa harus membara

LED menempuh jalan yang berbeda sama sekali. Di dalamnya ada kepingan bahan semikonduktor kecil. Ketika arus listrik melewatinya, muatan listrik melompat dari satu tingkat energi ke tingkat yang lebih rendah, dan selisih energinya dilepaskan langsung sebagai cahaya dengan warna tertentu. Tidak ada yang perlu dipanaskan sampai membara. Energi listrik hampir langsung diubah menjadi cahaya, dan panas yang tersisa jauh lebih sedikit. Panas yang sedikit itu pun masih harus dibuang lewat sirip logam di pangkal lampu, karena semikonduktor tidak suka suhu tinggi; itulah sebabnya LED yang dipasang di tempat sempit tanpa aliran udara cenderung lebih cepat rusak.

Karena tidak ada kawat yang terus-menerus dipanaskan sampai hampir meleleh, LED juga jauh lebih awet. Kawat lampu pijar menguap sedikit demi sedikit setiap kali menyala sampai akhirnya putus; kepingan LED hanya perlahan meredup selama bertahun-tahun.

Jadi ketika kemasan LED menjanjikan terang yang sama dengan daya yang jauh lebih kecil, itu bukan sulap. Lampu lama membayar tagihan untuk memanaskan ruangan; lampu baru membayar hanya untuk cahaya. Tangan Anda sudah bisa merasakan selisihnya sebelum meteran listrik menunjukkannya.

WA
Wira AdriansyahWira menulis delapan artikel antara 2023 dan 2025, sebagian besar tentang keanekaragaman hayati hutan dataran rendah dan metode survei satwa. Ia berhenti menulis setelah kembali ke pekerjaan lapangan yang membuatnya berbulan-bulan tanpa sinyal.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.