Padang lamun: rumput laut dangkal tempat dugong dan penyu mencari makan
Di antara pantai dan terumbu ada hamparan hijau yang sering dilupakan, padahal ia mengikat pasir, menahan ombak, dan menyimpan karbon.
Air laut yang jernih di pertengahan Juli membuat sesuatu yang biasanya tersembunyi jadi mudah dilihat dari perahu atau sekadar saat berjalan di air surut: hamparan hijau yang bergoyang di dasar perairan dangkal, mirip padang rumput yang tenggelam. Itu bukan rumput laut dalam arti alga, melainkan lamun, tumbuhan berbunga sejati yang nenek moyangnya pernah hidup di darat lalu kembali ke laut.
Karena ia tumbuhan sejati, lamun punya akar, batang yang menjalar di dalam pasir, daun berbentuk pita, dan bahkan bunga serta biji. Ia membutuhkan cahaya matahari untuk hidup, sehingga hanya bisa tumbuh di perairan dangkal yang cukup jernih. Di Indonesia, padang lamun biasanya terbentang di antara pantai dan terumbu karang, menempati zona yang sering dilewati begitu saja oleh perenang yang bergegas menuju karang.
Baca juga: Rayap: perusak kusen rumah, pekerja penting di lantai hutan
Dapur dan tempat penitipan anak
Daun lamun adalah makanan utama dugong, mamalia laut yang pemalu, dan juga disukai penyu hijau. Di antara daun-daunnya bersembunyi anak ikan, udang, kepiting, dan kuda laut yang membutuhkan tempat aman sebelum cukup besar untuk hidup di terumbu atau laut lepas. Banyak ikan yang akhirnya ditangkap nelayan di luar karang menghabiskan masa kecilnya di padang lamun. Rusaknya padang lamun sering baru terasa bertahun-tahun kemudian, ketika ikan dewasanya tidak kunjung datang.
Akar dan batang lamun yang menjalar mengikat pasir dan lumpur di dasar, sehingga air tetap jernih dan pantai tidak mudah terkikis. Daunnya memperlambat arus dan meredam ombak kecil sebelum mencapai pantai. Dan seperti tumbuhan darat, lamun menyerap karbon dioksida; karbon itu tertimbun di dalam sedimen di bawahnya dan bisa tersimpan sangat lama selama padangnya tidak diaduk.
Ancaman yang datang dari darat
Musuh utama lamun adalah air keruh. Lumpur yang terbawa sungai dari lereng gundul, limbah yang menyuburkan alga sehingga menutupi daun, serta pengerukan dan jangkar perahu yang mencabut rimpangnya, semuanya memotong cahaya atau merusak akar. Menjaga padang lamun ternyata dimulai jauh di darat, di hulu sungai yang bermuara ke pantai itu. Lain kali Anda berjalan di air surut dan melihat hamparan hijau yang bergoyang, berjalanlah di sekelilingnya, bukan di atasnya.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.