Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsAlam

Kunang-kunang menyala tanpa panas: cahaya dari sebuah reaksi kimia

Lampu pijar membuang sebagian besar energinya sebagai panas. Serangga kecil ini hampir tidak membuang apa-apa.

Pertengahan April, ketika hujan mulai jarang dan malam lebih kering, di pinggir sawah dan semak dekat sungai kadang masih bisa dijumpai titik-titik cahaya hijau kekuningan yang berkedip pelan. Kunang-kunang semakin jarang terlihat di dekat kota, dan justru karena itu pertanyaan tentangnya terasa semakin menarik: bagaimana makhluk sekecil itu bisa menyala, dan mengapa cahayanya tidak panas kalau kita pegang?

Cahaya kunang-kunang lahir dari reaksi kimia di bagian ujung perutnya. Di sana ada sel-sel khusus yang menyimpan sebuah zat bersama enzim yang mengolahnya. Ketika oksigen dialirkan ke sel tersebut, enzim mempertemukan zat itu dengan oksigen, dan hasil reaksinya melepaskan energi dalam bentuk cahaya. Tidak ada kawat yang dipanaskan, tidak ada api. Energinya hampir seluruhnya keluar sebagai cahaya, bukan panas, sehingga para ilmuwan menyebutnya cahaya dingin.

Baca juga: Air sungai cokelat sehabis hujan: tanah yang sedang berpindah ke laut

Mengatur kedipan dengan napas

Kunang-kunang mengendalikan nyalanya dengan mengatur pasokan oksigen. Ketika saluran udara ke sel cahaya dibuka, reaksi berjalan dan cahaya muncul; ketika ditutup, reaksi berhenti dan cahaya padam. Dari situlah lahir pola kedipan yang berbeda-beda antarjenis. Pola ini bukan sekadar hiasan: kunang-kunang jantan dan betina saling mengenali lewat irama kedipan, seperti kode yang hanya dipahami oleh jenis yang sama. Jantan biasanya terbang sambil berkedip, betina menjawab dari atas daun atau rumput.

Cahaya ini membutuhkan kegelapan untuk berfungsi. Di tempat yang terang oleh lampu jalan dan lampu rumah, kedipan kunang-kunang tenggelam dan pasangan sulit menemukan satu sama lain. Ditambah hilangnya rawa, semak lembap, dan tepian sungai yang menjadi tempat larvanya tumbuh, mudah dipahami mengapa ia semakin jarang muncul di sekitar permukiman.

Jadi kalau suatu malam Anda masih menemukan kunang-kunang berkedip di kebun, itu dua kabar baik sekaligus: tempat itu masih cukup gelap, dan masih cukup basah bagi makhluk yang menyalakan lampunya sendiri dari sebuah reaksi kimia.

VH
Vina HartantoVina bergabung pada 2023 dan merupakan penulis aktif dengan sembilan belas artikel, dari mekanisme vaksin hingga pergerakan lempeng di bawah kepulauan Indonesia. Ia memulai setiap artikel tentang gempa dengan membaca ulang katalog kejadian dari badan geofisika untuk wilayah yang dibahas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.