Awan menjulang di sore pancaroba: tanda hujan yang datang mendadak
Cara membaca langit menjelang musim hujan.
Beberapa minggu belakangan, langit di tempat saya punya ritme yang sama: pagi cerah, siang terik, lalu sekitar pukul dua siang muncul awan putih yang tumbuh cepat menjulang, dan menjelang sore hujan turun deras disertai petir. Inilah wajah pancaroba, masa peralihan dari kemarau ke musim hujan.
Pola ini dimulai dari matahari. Pagi yang cerah memanaskan tanah dengan kuat. Udara di dekat tanah menjadi hangat dan lembap, lalu naik seperti balon udara. Semakin tinggi ia naik, semakin dingin ia menjadi, dan uap air di dalamnya mengembun menjadi tetesan awan. Pengembunan itu melepaskan panas, yang membuat udara makin ringan dan makin cepat naik lagi.
Baca juga: Angin darat dan angin laut: jam kerja nelayan yang diatur matahari
Dari gumpalan kecil menjadi menara
Awan yang mula-mula hanya gumpalan kecil seperti kapas bisa tumbuh menjadi menara setinggi belasan kilometer dalam satu jam. Puncaknya sering melebar seperti landasan, karena di ketinggian itu udara tidak bisa naik lebih jauh. Di dalam menara awan ini, tetesan air dan butiran es saling bertumbukan dan berputar, memisahkan muatan listrik. Itulah sumber petir.
Hujan dari awan jenis ini turun deras tetapi tidak lama, biasanya mengguyur daerah yang sempit, dan berhenti setelah udara hangat di bawahnya habis terpakai. Itu sebabnya pada pancaroba satu kecamatan bisa banjir sementara kecamatan sebelahnya kering.
Tanda yang bisa diperhatikan: kalau siang terik dan udara terasa pengap, lalu muncul awan yang tumbuh ke atas dengan cepat dan dasarnya menggelap, bersiaplah. Hujan dan petir biasanya datang dalam satu atau dua jam. Jemuran sebaiknya diangkat, dan tempat terbuka sebaiknya ditinggalkan.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.