Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsEnergi

Mengapa jaringan listrik membutuhkan penyimpanan energi

Listrik harus dipakai pada detik yang sama ketika dihasilkan. Energi surya dan angin yang datang pada jam yang salah tidak banyak gunanya tanpa cara untuk menahannya sejenak.

Mengapa jaringan listrik membutuhkan penyimpanan energi
Foto: L / Wikimedia Commons (No restrictions)

Listrik punya sifat yang membuatnya berbeda dari hampir semua komoditas lain: ia harus dipakai pada saat yang sama ketika dihasilkan. Jaringan listrik bekerja dengan menyeimbangkan pasokan dan permintaan setiap detik. Jika pasokan terlalu banyak atau terlalu sedikit, frekuensi jaringan bergeser dan pemadaman bisa terjadi.

Selama ini keseimbangan itu dijaga dengan pembangkit yang dapat dikendalikan: batu bara, gas, air, dan panas bumi. Operator menaikkan atau menurunkan keluaran mereka mengikuti permintaan. Energi surya dan angin tidak bisa diperlakukan seperti itu, karena keluarannya ditentukan oleh cuaca, bukan oleh operator.

Baca juga: Matahari khatulistiwa: mengapa energi surya di negara tropis tidak sesederhana kelihatannya

Masalah jam enam sore

Di banyak tempat, puncak pemakaian listrik rumah tangga terjadi menjelang malam, saat orang pulang kerja, menyalakan lampu, memasak, dan menghidupkan pendingin ruangan. Pada jam yang sama, matahari sudah terbenam dan panel surya berhenti menghasilkan. Ketidaksesuaian antara waktu produksi dan waktu pemakaian inilah yang menjadi persoalan inti.

Penyimpanan energi menjembatani kesenjangan itu. Listrik yang berlebih di siang hari disimpan, lalu dilepaskan saat dibutuhkan beberapa jam kemudian. Dengan cara ini, energi surya yang sifatnya terputus-putus bisa menjadi pasokan yang lebih dapat diandalkan.

Bukan hanya baterai

Baterai litium adalah bentuk penyimpanan yang paling sering dibicarakan karena cepat merespons dan mudah dipasang di mana saja, dari rumah hingga gardu induk. Namun ia bukan satu-satunya.

Pembangkit listrik tenaga pompa adalah teknologi penyimpanan tertua dan terbesar: air dipompa ke waduk yang lebih tinggi saat listrik berlebih, lalu dialirkan turun melalui turbin saat listrik dibutuhkan. Untuk negara yang berbukit dan bersungai seperti Indonesia, konsep ini relevan.

Ada pula bentuk yang lebih sederhana, seperti menyimpan panas atau dingin. Pabrik es dan gudang pendingin bisa menyimpan energi dengan mendinginkan lebih kuat saat listrik melimpah dan mengurangi pendinginan saat listrik langka.

Fleksibilitas dari sisi pemakai

Penyimpanan tidak selalu berarti alat baru. Mengatur waktu pemakaian juga membantu: memanaskan air, mengisi daya kendaraan listrik, atau menjalankan mesin pada jam-jam ketika pasokan melimpah. Semakin banyak beban yang bisa digeser, semakin sedikit penyimpanan fisik yang dibutuhkan.

Pada akhirnya, jaringan masa depan bukan hanya soal membangun lebih banyak pembangkit terbarukan, melainkan soal mengelola waktu. Energi yang bersih tetapi datang pada jam yang salah tidak banyak gunanya tanpa cara untuk menahannya sejenak.

NM
Nabila MahardikaNabila adalah penulis termuda di redaksi yang bergabung pada 2025 dan telah menulis sebelas artikel tentang peringatan dini cuaca, skala gempa, dan kebakaran gambut. Ia menyimpan arsip tangkapan layar peringatan cuaca resmi yang ia bandingkan dengan kejadian sebenarnya di lapangan.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.