Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsAlam

Mengapa Indonesia dipenuhi gempa dan gunung api: cerita tentang lempeng yang terus bergerak

Gempa yang nyaris mingguan dan deretan gunung api dari Sumatra hingga Maluku bukan nasib buruk, melainkan akibat langsung dari posisi di pertemuan lempeng-lempeng bumi.

Mengapa Indonesia dipenuhi gempa dan gunung api: cerita tentang lempeng yang terus bergerak
Foto: C / Wikimedia Commons (Public domain)

Hampir setiap pekan ada gempa yang terasa di suatu tempat di Indonesia, dan puluhan gunung api aktif berjajar dari Sumatra hingga Maluku. Bagi sebagian orang ini terasa seperti nasib buruk. Padahal ia adalah konsekuensi langsung dari posisi geologis yang luar biasa: Indonesia berada di pertemuan beberapa lempeng tektonik besar.

Kulit bumi bukan lapisan utuh, melainkan pecahan-pecahan raksasa yang disebut lempeng. Lempeng-lempeng ini bergerak perlahan di atas lapisan mantel yang lebih panas dan lebih lentur, beberapa sentimeter per tahun, kira-kira secepat pertumbuhan kuku manusia. Pergerakan sekecil itu, bila ditumpuk selama jutaan tahun, cukup untuk membangun pegunungan dan membuka samudra.

Baca juga: Mangrove: benteng pantai yang tumbuh sendiri

Pertemuan lempeng-lempeng besar

Kepulauan Indonesia terbentuk di tempat lempeng Indo-Australia bergerak ke utara dan menunjam di bawah lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik mendesak dari timur. Zona tempat satu lempeng menyusup ke bawah lempeng lain disebut zona subduksi, dan zona subduksi yang panjang membentang di sepanjang pantai barat Sumatra, selatan Jawa, hingga Nusa Tenggara.

Di zona subduksi, dua lempeng tidak meluncur mulus. Mereka saling mengunci, dan tegangan menumpuk selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika kuncian itu akhirnya lepas, energi yang tersimpan dilepaskan dalam sekejap sebagai gempa. Semakin lama tegangan menumpuk, semakin besar potensi gempanya.

Dari lempeng yang tenggelam menjadi gunung api

Lempeng yang menunjam membawa serta air laut yang terperangkap dalam sedimen dan batuannya. Semakin dalam ia tenggelam, semakin panas dan tertekan, hingga air itu terlepas ke mantel di atasnya. Air menurunkan titik leleh batuan, sehingga sebagian mantel mencair dan membentuk magma.

Magma yang lebih ringan daripada batuan sekitarnya perlahan naik, menerobos kerak, dan bila mencapai permukaan membentuk gunung api. Itulah sebabnya deretan gunung api di Indonesia berjajar sejajar dengan zona subduksi, beberapa ratus kilometer di belakangnya. Rangkaian ini adalah bagian dari Cincin Api Pasifik yang mengelilingi samudra terbesar di dunia.

Bagian timur yang lebih rumit

Di Indonesia timur, susunan lempengnya jauh lebih rumit. Lempeng-lempeng kecil terjepit di antara lempeng besar, saling berputar dan bertumbukan dalam berbagai arah. Inilah sebabnya Sulawesi, Maluku, dan Papua memiliki pola gempa yang beragam dan sesar-sesar aktif yang tidak hanya terkait subduksi.

Sesar darat, yaitu patahan yang memotong daratan, juga menjadi sumber gempa yang penting. Berbeda dari gempa subduksi yang berpusat di laut, gempa sesar darat bisa dangkal dan berada tepat di bawah permukiman, sehingga guncangannya terasa sangat kuat meski magnitudonya tidak terlalu besar.

Posisi ini membawa dua sisi mata uang. Tanah vulkanik yang subur, sumber panas bumi, dan lanskap yang memukau adalah hadiahnya. Gempa, tsunami, dan letusan adalah harganya. Memahami mekanismenya tidak menghilangkan risiko, tetapi memberi dasar untuk membangun, merencanakan, dan hidup dengan lebih bijak di atas bumi yang terus bergerak.

VH
Vina HartantoVina bergabung pada 2023 dan merupakan penulis aktif dengan sembilan belas artikel, dari mekanisme vaksin hingga pergerakan lempeng di bawah kepulauan Indonesia. Ia memulai setiap artikel tentang gempa dengan membaca ulang katalog kejadian dari badan geofisika untuk wilayah yang dibahas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.