Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsRiset

Magnitudo dan intensitas gempa: dua angka yang sering tertukar

Satu gempa hanya punya satu magnitudo, tetapi punya banyak nilai intensitas. Memahami bedanya membantu menilai bahaya tanpa panik berlebihan atau meremehkan.

Setiap kali gempa terjadi, dua jenis angka beredar. Yang pertama adalah magnitudo, misalnya gempa M 5,8. Yang kedua adalah laporan tentang seberapa kuat guncangan terasa di suatu tempat, kadang disertai skala dengan angka Romawi. Kedua angka ini sering dianggap sama padahal mengukur hal yang sangat berbeda.

Magnitudo adalah ukuran energi yang dilepaskan di sumber gempa. Setiap gempa hanya memiliki satu nilai magnitudo, tidak peduli di mana Anda berada. Nilai ini dihitung dari rekaman seismograf dan menggambarkan seberapa besar bidang patahan yang bergeser dan seberapa jauh pergeserannya.

Baca juga: Cara kerja vaksin: melatih tubuh sebelum musuh datang

Skala yang menipu intuisi

Skala magnitudo bersifat logaritmik, bukan linear. Kenaikan satu angka magnitudo berarti goyangan yang terekam sekitar sepuluh kali lebih besar, dan energi yang dilepaskan jauh lebih besar lagi, sekitar tiga puluh kali lipat. Jadi perbedaan antara gempa M 5 dan M 7 bukan sedikit lebih kuat, melainkan ratusan kali lebih banyak energi.

Inilah sebabnya gempa-gempa kecil terjadi sangat sering tanpa kita sadari, sementara gempa besar jarang tetapi berdampak luar biasa. Skala Richter yang populer kini umumnya digantikan oleh skala magnitudo momen yang lebih akurat untuk gempa besar, tetapi prinsip logaritmiknya serupa.

Intensitas: apa yang dirasakan

Intensitas, sebaliknya, mengukur dampak guncangan di lokasi tertentu. Satu gempa memiliki banyak nilai intensitas: tinggi di dekat pusat gempa dan menurun semakin jauh dari sana. Skala yang umum dipakai, termasuk oleh BMKG, adalah Modified Mercalli Intensity (MMI) dengan angka Romawi, dari guncangan yang hanya terekam alat hingga guncangan yang merobohkan bangunan.

Intensitas ditentukan oleh beberapa hal sekaligus: jarak dari pusat gempa, kedalaman sumbernya, dan jenis tanah di tempat Anda berdiri. Gempa dangkal menghasilkan guncangan permukaan yang lebih kuat daripada gempa dalam dengan magnitudo yang sama. Tanah lunak dan endapan sungai cenderung memperkuat guncangan dibandingkan batuan keras.

Mengapa perbedaannya penting

Gempa bermagnitudo besar yang sangat dalam di bawah laut bisa terasa ringan di daratan, sementara gempa bermagnitudo sedang yang dangkal tepat di bawah kota bisa sangat merusak. Membaca magnitudo saja tidak cukup untuk menilai bahaya; kedalaman dan lokasi sama pentingnya.

Karena itu, saat membaca informasi gempa, perhatikan tiga hal: magnitudo, kedalaman, dan jarak pusat gempa dari tempat Anda. Dan ketika laporan menyebut dirasakan III-IV MMI di kota tertentu, itu adalah deskripsi pengalaman di lokasi tersebut, bukan ukuran gempa itu sendiri.

Memahami dua angka ini membantu kita tidak panik pada gempa besar yang jauh dan dalam, sekaligus tidak meremehkan gempa yang tampak kecil tetapi dangkal dan dekat.

NM
Nabila MahardikaNabila adalah penulis termuda di redaksi yang bergabung pada 2025 dan telah menulis sebelas artikel tentang peringatan dini cuaca, skala gempa, dan kebakaran gambut. Ia menyimpan arsip tangkapan layar peringatan cuaca resmi yang ia bandingkan dengan kejadian sebenarnya di lapangan.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.