Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

Pulau panas perkotaan: mengapa pusat kota terasa lebih gerah daripada pinggirannya

Beton, aspal, dan hilangnya pepohonan membuat kota menyimpan panas siang hingga larut malam. Fenomena ini terukur, dan penyebabnya sekaligus menunjukkan jalan keluarnya.

Pulau panas perkotaan: mengapa pusat kota terasa lebih gerah daripada pinggirannya
Foto: A /PMPA / Wikimedia Commons (Attribution)

Siapa pun yang pernah berkendara dari pusat kota ke pinggiran pada malam hari mungkin merasakan udara yang perlahan menjadi lebih sejuk. Perbedaan itu nyata dan terukur. Para ilmuwan menyebutnya pulau panas perkotaan: wilayah kota yang suhunya lebih tinggi daripada daerah sekitarnya, terutama pada malam hari.

Penyebab utamanya adalah bahan yang membentuk kota. Beton, aspal, dan genteng menyerap panas matahari sepanjang siang dan melepaskannya perlahan setelah matahari terbenam. Tanah, rumput, dan pepohonan berperilaku berbeda: sebagian energi matahari mereka gunakan untuk menguapkan air, sebuah proses yang justru mendinginkan udara di sekitarnya.

Baca juga: Mengapa Indonesia hanya mengenal dua musim: cara kerja angin monsun

Kota yang kehilangan keringatnya

Penguapan adalah sistem pendingin alami bumi, persis seperti keringat pada tubuh manusia. Ketika permukaan tanah ditutup bangunan dan jalan, air hujan langsung dialirkan ke selokan alih-alih meresap, sehingga tidak ada lagi air yang bisa diuapkan. Kota pun kehilangan keringatnya dan panas menumpuk.

Bentuk kota ikut memperparah. Gedung-gedung tinggi yang berdekatan membentuk ngarai yang memerangkap radiasi panas dan menghalangi angin. Panas yang seharusnya lepas ke langit memantul bolak-balik di antara dinding bangunan.

Aktivitas manusia menambahkan lapisan panas lain: mesin kendaraan, pendingin ruangan yang membuang udara panas ke luar, pabrik, dan jutaan peralatan listrik. Setiap pendingin ruangan yang menyejukkan satu kamar sedang memanaskan jalan di luarnya.

Mengapa ini bukan sekadar soal gerah

Di negara tropis yang sudah hangat sepanjang tahun, tambahan beberapa derajat bisa berarti banyak. Malam yang tidak kunjung dingin membuat tubuh tidak sempat pulih dari panas siang hari, dan kelompok paling rentan adalah lansia, bayi, pekerja luar ruang, serta warga yang tinggal di hunian padat tanpa ventilasi yang baik.

Ada pula efek berantai. Kota yang lebih panas menuntut lebih banyak pendingin ruangan, yang berarti lebih banyak listrik dan lebih banyak panas buangan. Udara panas juga mempercepat pembentukan polutan tertentu, sehingga kualitas udara ikut memburuk.

Apa yang terbukti membantu

Kabar baiknya, penyebab pulau panas sekaligus menunjukkan solusinya. Menambah pepohonan dan ruang hijau mengembalikan penguapan dan keteduhan. Atap dan dinding berwarna terang memantulkan lebih banyak sinar matahari daripada menyerapnya. Permukaan yang dapat meresapkan air membantu tanah tetap lembap.

Perubahan kecil pun berarti di tingkat lingkungan: sebatang pohon rindang di depan rumah, halaman yang tidak sepenuhnya disemen, atau atap yang dicat terang. Pulau panas terbentuk dari jutaan keputusan kecil tentang permukaan kota, dan karena itulah ia juga bisa dibongkar dengan cara yang sama.

SP
Shinta PramudyaShinta menulis dua belas artikel sejak 2024 tentang mangrove, pulau panas perkotaan, dan energi surya di garis khatulistiwa. Ia mengukur sendiri suhu permukaan trotoar dan taman di kotanya dengan termometer inframerah sebelum menulis tentang pulau panas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.