Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

Keringat yang tidak mau kering: mengapa hari lembap terasa lebih panas dari angka termometer

Tubuh mendinginkan diri lewat penguapan, dan udara yang sudah jenuh air tidak memberinya ruang.

Pertengahan Juli, kemarau sedang di puncaknya di banyak kota, tetapi ada hari-hari ketika angka di termometer tidak terasa sepadan dengan gerahnya. Dua puluh sembilan derajat di siang yang kering terasa lebih ringan daripada dua puluh sembilan derajat di sore yang lembap selepas hujan sesaat. Perbedaannya bukan pada suhu, melainkan pada apa yang terjadi di permukaan kulit kita.

Tubuh manusia adalah mesin yang terus menghasilkan panas. Setiap gerakan otot, setiap detak jantung, bahkan proses mencerna makanan melepaskan kalor yang harus dibuang supaya suhu inti tetap stabil. Salah satu cara pembuangan yang paling efektif adalah keringat, dan rahasianya bukan pada air yang keluar, melainkan pada air yang menguap.

Baca juga: Dipol Samudra Hindia: tetangga El Nino di sisi barat yang ikut mengatur kemarau kita

Pendingin yang bekerja lewat penguapan

Mengubah air cair menjadi uap membutuhkan energi. Ketika setetes keringat menguap dari kulit, energi itu diambil dari kulit di bawahnya, dan kulit pun menjadi lebih sejuk. Prinsip yang sama membuat kita menggigil keluar dari kolam renang saat angin bertiup: air di tubuh menguap dan membawa serta panas kita.

Masalah muncul ketika udara di sekitar sudah penuh dengan uap air. Udara hanya bisa menampung uap sampai batas tertentu, dan semakin dekat ke batas itu, semakin lambat penguapan berlangsung. Pada hari lembap, keringat keluar seperti biasa, tetapi tidak menguap. Ia hanya menempel, membasahi baju, dan tidak mendinginkan apa pun. Tubuh merespons dengan berkeringat lebih banyak lagi, dan kita merasa lengket tanpa merasa lebih sejuk.

Mengapa kipas angin terasa membantu

Di sinilah kipas angin bekerja dengan cara yang sering disalahpahami. Kipas tidak menurunkan suhu ruangan; udara yang ditiupkannya sama panasnya dengan udara diam di sudut kamar. Yang dilakukan kipas adalah mengganti lapisan udara lembap yang menempel di kulit dengan udara baru yang masih punya ruang untuk uap air, sehingga keringat kembali bisa menguap. Itulah sebabnya kipas terasa menyegarkan di tubuh yang berkeringat tetapi hampir tidak terasa di tubuh yang kering.

Pelajarannya sederhana. Di hari lembap, membuka jendela agar udara bergerak sering kali lebih membantu daripada mengejar angka suhu yang lebih rendah. Dan ketika keringat tidak mau kering, itu bukan tanda tubuh gagal bekerja, melainkan tanda udara yang sudah tidak sanggup menerima titipan lagi.

IF
Irfan FadillahIrfan menulis untuk Bumi Sains sejak 2024 dan telah menerbitkan lima belas artikel tentang monsun, mikrohidro, dan cara kerja ulasan sejawat. Ia selalu menyertakan nomor DOI setiap studi yang dikutipnya dalam catatan kaki naskah sebelum menyerahkannya ke penyunting.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.