Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsEnergi

Energi dari laut: mengapa ombak dan arus pasang sulit dijinakkan padahal tenaganya terasa di setiap pantai

Laut tidak pernah berhenti bergerak. Masalahnya bukan kurang tenaga, melainkan tenaga yang datang dengan cara yang salah.

Energi dari laut: mengapa ombak dan arus pasang sulit dijinakkan padahal tenaganya terasa di setiap pantai
Foto: J / Wikimedia Commons (CC0)

Memasuki April, hujan mulai jarang dan laut selatan menunjukkan watak aslinya: gelombang panjang yang menghantam tebing tanpa jeda, siang dan malam. Bagi siapa pun yang berdiri di pinggirnya, pertanyaannya terasa wajar. Kalau sebanyak itu tenaga yang terbuang, mengapa belum ada pembangkit listrik di setiap pantai?

Tiga sumber yang berbeda sifatnya

Baca juga: Lima puluh hertz: detak jantung jaringan listrik yang dijaga setiap detik

Laut menawarkan setidaknya tiga jenis gerak yang bisa dipanen. Ombak membawa energi angin yang terkumpul di permukaan laut dari jarak sangat jauh. Pasang surut, yang digerakkan tarikan Bulan dan Matahari, memindahkan air dalam jumlah besar dua kali sehari dan sangat bisa diprediksi bertahun-tahun ke depan. Arus laut di selat sempit, tempat pasang surut dipaksa melewati celah, bisa sederas sungai besar. Ketiganya punya kelebihan yang tidak dimiliki angin dan matahari: laut jarang benar-benar diam.

Mengapa ombak paling sukar

Ombak justru yang paling sulit dipanen. Gerakannya naik turun dan bolak-balik, bukan putaran tetap yang disukai generator, sehingga alat harus mengubah gerak acak menjadi putaran searah. Alat itu harus cukup ringan untuk merespons ombak sehari-hari, tetapi cukup kuat untuk bertahan dari badai yang tenaganya berkali lipat. Air laut mengaratkan logam, biota menempel pada apa pun yang terendam, dan perawatan di tengah laut jauh lebih mahal daripada di darat. Banyak rancangan bekerja baik di kolam uji dan patah di laut sungguhan.

Pasang surut: dapat diandalkan, tetapi pemilih tempat

Pembangkit pasang surut bekerja dengan cara yang lebih dikenal: turbin dipasang di aliran air yang keluar masuk teluk atau selat, mirip turbin angin yang ditenggelamkan. Karena air jauh lebih padat daripada udara, arus yang terasa pelan sudah membawa tenaga besar. Kekurangannya adalah lokasi. Tempat dengan arus pasang yang cukup kuat hanya ada di selat dan muara tertentu, sering jauh dari kota yang membutuhkan listriknya, dan tepat di jalur kapal serta nelayan. Indonesia, dengan ribuan selat di antara pulau-pulaunya, secara geografis termasuk yang paling berpeluang, tetapi peluang geografis dan kelayakan biaya adalah dua hal yang berbeda.

Energi laut karena itu lebih baik dipahami sebagai pelengkap yang andal untuk tempat-tempat tertentu, bukan pesaing besar bagi angin dan matahari. Laut memang tidak pernah berhenti; yang belum selesai adalah alat yang sanggup mendengarkannya selama puluhan tahun tanpa rusak.

VH
Vina HartantoVina bergabung pada 2023 dan merupakan penulis aktif dengan sembilan belas artikel, dari mekanisme vaksin hingga pergerakan lempeng di bawah kepulauan Indonesia. Ia memulai setiap artikel tentang gempa dengan membaca ulang katalog kejadian dari badan geofisika untuk wilayah yang dibahas.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.