Stalaktit dan stalagmit: tetesan air yang membangun batu di dalam gua
Gua kapur dibentuk oleh air yang melarutkan batu, lalu dihias oleh air yang sama ketika ia menguap.
Musim kemarau yang mulai datang di bulan Mei adalah waktu yang baik untuk menjelajahi gua kapur, karena airnya surut dan lorongnya lebih aman. Siapa pun yang masuk ke dalam gua semacam itu pasti berhenti di depan tiang-tiang batu yang menggantung dari langit-langit dan tumbuh dari lantai, licin, berkilau, kadang seperti lilin yang meleleh. Pertanyaannya selalu sama: bagaimana batu bisa tumbuh?
Jawabannya dimulai jauh di atas gua. Air hujan yang meresap ke tanah mengambil sedikit karbon dioksida dari udara dan dari tanah, sehingga menjadi sedikit asam. Batu kapur, yang terbentuk dari cangkang dan karang laut purba, mudah larut dalam air yang asam. Selama ribuan tahun, air itu merembes melalui retakan, melarutkan batu sedikit demi sedikit, dan memperlebar retakan menjadi lorong. Begitulah gua terbentuk: bukan digali, melainkan dilarutkan.
Baca juga: Mengapa laut tampak biru di satu pantai dan hijau di pantai lain
Dari pelarut menjadi pembangun
Air yang sama itu kemudian menetes dari langit-langit gua. Ketika tetesan menggantung di udara gua, karbon dioksida yang dibawanya lepas kembali ke udara. Air pun kehilangan keasamannya dan tidak sanggup lagi menahan kapur yang terlarut. Sebagian kecil kapur mengendap sebagai lapisan sangat tipis di tempat tetesan itu menggantung. Tetesan berikutnya menambahkan lapisan lagi, dan lagi. Dari situlah stalaktit tumbuh dari atas, memanjang ke bawah dengan lubang halus di tengahnya tempat air mengalir.
Tetesan yang jatuh ke lantai melakukan hal serupa: pecah, melepaskan karbon dioksida, dan meninggalkan kapur. Dari lantai tumbuhlah stalagmit, biasanya lebih gemuk dan tumpul karena tetesan pecah menyebar. Kalau keduanya akhirnya bertemu, jadilah tiang yang menyambungkan lantai dan langit-langit.
Mengapa dilarang disentuh
Laju tumbuhnya sangat lambat; sebatang stalaktit sebesar jari bisa mewakili waktu yang jauh lebih panjang dari umur manusia. Itulah mengapa pengelola gua melarang pengunjung menyentuhnya. Minyak dan kotoran dari tangan menutup permukaan sehingga lapisan kapur baru tidak bisa menempel, dan pertumbuhan yang sudah berjalan sangat lama berhenti begitu saja. Di dalam gua, setiap tetesan yang Anda dengar adalah satu lapisan tipis yang sedang ditambahkan ke sebuah bangunan yang belum selesai.
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.