Edisi 28 Oktober 2026Bukti dulu, opini belakangan.
← Bumi SainsIklim

Sisi gunung yang basah dan sisi yang kering: cara kerja hujan orografis

Mengapa satu lereng selalu lebih basah dari lereng sebelahnya.

Januari adalah bulan ketika lereng-lereng gunung di Jawa dan Sumatra nyaris tidak pernah kering. Kalau Anda pernah mendaki atau sekadar berkendara melintasi pegunungan di musim hujan, mungkin Anda memperhatikan sesuatu yang aneh: sisi gunung yang satu hujan terus, sedangkan di balik punggungannya langit jauh lebih cerah dan tanahnya lebih kering. Ini bukan kebetulan. Ada mekanisme yang rapi di baliknya, dan para ahli cuaca menyebutnya hujan orografis.

Prosesnya dimulai dari angin yang membawa udara lembap dari laut. Ketika angin itu bertemu gunung, ia tidak bisa menembus, jadi ia dipaksa naik mengikuti lereng. Di sinilah hal penting terjadi: udara yang naik akan mengembang karena tekanan di atas lebih rendah, dan udara yang mengembang menjadi dingin. Udara dingin tidak sanggup menampung uap air sebanyak udara hangat. Uap yang berlebih pun mengembun menjadi awan, lalu menjadi hujan yang turun di lereng yang menghadap angin.

Baca juga: Banjir sering datang setelah tanah kenyang, bukan saat hujan paling deras

Bayangan hujan di balik punggungan

Setelah melewati puncak, udara itu turun di sisi sebaliknya. Kini terjadi kebalikannya: udara yang turun tertekan, menjadi lebih hangat, dan kemampuannya menampung uap air kembali naik. Tapi uap airnya sudah banyak ditinggalkan sebagai hujan di sisi pertama. Hasilnya adalah udara yang kering dan hangat mengalir ke lereng kedua. Daerah ini disebut bayangan hujan, karena seolah-olah gunung melindunginya dari hujan seperti payung.

Pola ini menjelaskan banyak hal yang kita lihat sehari-hari. Mengapa perkebunan teh selalu ada di lereng tertentu dan bukan di lereng lainnya. Mengapa dua kabupaten yang hanya dipisahkan satu gunung bisa punya musim tanam yang berbeda. Mengapa sebagian wilayah di timur Indonesia lebih kering daripada tetangganya, padahal jaraknya tidak jauh.

Yang menarik, arah angin berubah mengikuti musim. Lereng yang basah di bulan Januari bisa menjadi lereng yang relatif kering beberapa bulan kemudian, ketika angin bertiup dari arah sebaliknya. Gunung tidak berpindah, tetapi payungnya berganti sisi. Kalau Anda tinggal di dekat pegunungan, mengamati sisi mana yang berawan pagi ini adalah cara sederhana membaca dari mana angin musim sedang datang.

IF
Irfan FadillahIrfan menulis untuk Bumi Sains sejak 2024 dan telah menerbitkan lima belas artikel tentang monsun, mikrohidro, dan cara kerja ulasan sejawat. Ia selalu menyertakan nomor DOI setiap studi yang dikutipnya dalam catatan kaki naskah sebelum menyerahkannya ke penyunting.
Dapatkan tulisan baru Bumi Sains lewat email

Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.