Mengapa obat baru harus dibandingkan dengan pil kosong
Plasebo dan seni membuktikan sesuatu bekerja.
Setiap kali ada obat atau suplemen baru yang diklaim manjur, pertanyaan pertama yang diajukan ilmuwan sebenarnya sederhana: dibandingkan dengan apa?
Bayangkan seratus orang yang sedang flu diberi ramuan tertentu, dan seminggu kemudian sebagian besar sembuh. Apakah ramuan itu bekerja? Belum tentu. Flu memang sembuh sendiri dalam seminggu pada hampir semua orang. Tanpa pembanding, kita tidak bisa tahu apakah ramuan itu yang menyembuhkan atau sekadar waktu yang berjalan.
Baca juga: Mengapa malam berlangit cerah terasa lebih dingin daripada malam berawan
Karena itu para peneliti membagi peserta menjadi dua kelompok. Satu kelompok mendapat obat yang diuji, kelompok lain mendapat pil yang tampak sama persis tetapi tidak mengandung bahan aktif. Pil kosong itu disebut plasebo. Kalau kelompok obat sembuh jauh lebih cepat daripada kelompok plasebo, barulah ada alasan untuk percaya obat itu punya efek nyata.
Ada satu hal lagi yang membuat percobaan ini rumit. Orang yang merasa sedang diobati sering kali merasa membaik, walau yang ditelan hanya gula. Harapan dan perhatian punya pengaruh pada tubuh, dan ini bukan sekadar sugesti kosong. Itulah sebabnya peserta tidak diberi tahu mereka masuk kelompok yang mana. Bahkan dokter yang memberikan pilnya pun sering tidak tahu, supaya sikapnya tidak tanpa sengaja memengaruhi peserta. Rancangan seperti ini disebut uji buta ganda.
Peserta juga dibagi ke kelompok secara acak, bukan dipilih. Kalau yang lebih muda dan lebih sehat dikumpulkan di kelompok obat, hasilnya akan tampak bagus bukan karena obatnya.
Prinsip ini terdengar merepotkan, tetapi inilah pagar yang memisahkan pengobatan yang terbukti dari sekadar kesaksian. Lain kali Anda mendengar klaim manjur, tanyakan satu hal: dibandingkan dengan apa?
Satu surel singkat setiap kali ada artikel baru. Tidak ada iklan, berhenti kapan saja.